Beranda Peristiwa Radar Kudus Lestarikan Dewadaru

Radar Kudus Lestarikan Dewadaru

57
0

Dewadaru, yang ditanam karyawan Jawa Pos Radar Kudus di depan kantor Kecamatan Karimunjawa setahun lalu kini semakin subur. Ketika ditanam pohon itu hanya sekira 40 centimeter. Sekarang hampir dua kali lipat. Daunnya hijau. Rimbun.
Penanaman itu untuk melestarikan tanaman langka nan sakti. Karyawan Radar Kudus mendapat bibitnya dari suatu daerah di Karimunjawa. Penanaman atas seizin camat setempat. Dilakukan bersama sekretaris kecamatan. Saat itu camat sedang di bertugas di Jepara.

Pohon dewadaru sekarang sudah pangka. Padahal tanaman itu semakin populer. Masyarakat setempat menyediakannya sebagi cindera mata. Ada yang berbentuk tongkat teken, keris, pisau komando, tongkat komando, gelang, dan kalung. Banyak wisatawan yang membelinya. Mereka terpengaruh mitos kesaktiannya. Harganya mahal.

Baca Juga:
Ke Karimunjawa Cukup 30 Menit
Puas Snorkling Asyik di Takak Sendok
Heboh Pesta Ikan di Alun-Alun Karimunjawa
Bakar Ikan di Pulau Tak Berpenghuni
Bule-Bule Berbikini Menghampar di Pulau Cemara Kecil
Gagal ke Tanjung Gelam Nikmati Sunset di Menjangan Kecil
Keliling Karimunjawa 24 jam Cuma Rp 75 Ribu
Sayang Karimunjawa Kotor dan Kurang Fasilitas
Sensasi Pijat di Tengah Alun-Alun
Di Karimunjawa Jangan Lupa Oleh-Oleh Krupuk Sea Food
Hari Minggu Surga Para Bule di Karimunjawa
Snorkling Jangan Stres Usir Stres

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Barhaqi yang ke Karimunjawa minggu lalu sengaja mengamati pasar. Satu keris dijual Rp 1 juta. Gelang Rp 50 ribu. Tongkat Rp 300 – 500 ribu.
Konon dewadaru memiliki kesaktian. Sebagai aji-aji kekebalan. Itu berasal dari legenda tongkat anak sakti yang diusir ayahnya dari tanah Jawa. Di Karimunjawa dia mendapat kesaktian berkat kayu itu.
Kayu dewadaru (dulu) diyakini tidak bisa dibawa ke luar Karimunjawa. Konon setiap kali diselundupkan keluar, kapalnya karam. Sama dengan kayu setigi khas Karimunjawa yang kini juga langka. Masyarakat akhirnya tahu, kayu itu punya kelemahan. Kesaktiannyai dapat dinetralisasi dengan pohon kalimasada.
Agar bisa dibawa ke luar Karimunjawa kayu tersebut harus didampingi kayu kalimasada. Kini, penduduk setempat membuat suvenir dengan menggabungkan kedua kayu tersebut. Misalnya tongkat komando. Bagian bawah kayu dewadaru. Yang atas kalimasada. Atau sebaliknya. Juga gelang yang dibuat kombinas. Tujuannya agar bisa dibawa ke luar daerah. (Baehaqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here