Andalkan Daya Ingat untuk Cerita Pewayangan

    Ahmad Tino Muzaqi, Dalang Wayang Klitik yang Masih Belia

    10
    0
    Ahmad Tino Muzaqi

    Ahmad Tino Muzaqi tercatat sebagai dalang cilik wayang klitik. Usianya tujuh tahun. Dia terinspirasi dari ayahnya, Sutikno yang biasa memainkan wayang klitik. Bukan karena turunan ia ingin jadi dalang, tapi karena cinta budaya Jawa.

    DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

    SUARA Ahmad Tino Muzaqi mendadak membesar saat mengucapkan dialog wayang. Suara khas anak-anak tak lagi terdengar. Tino sudah pandai menirukan suara setiap tokoh wayang di sedang dimainkan. Suaranya bisa sangat lembut ketika memerankan tokoh berkarakter lembut. Menjadi sangat garang ketika melontarkan dialog tokoh jahat.

    Tak hanya permaianan suara yang pas. Gerakan tangan anak yang sekarang duduk di bangku kelas II itu juga pas. Tangan mungilnya itu bahkan tak terlihat kewalahan memegang wayang. Menyamakan gerak tokoh dengan dialog dan cerita merupakan hal yang mudah baginya.

    ”Sebenarnya banyak cerita yang sudah pernah saya maiankan. Tapi saya paling suka membawakan cerita Jaka Umbaran saat pementasan wayang klitik,” katanya saat ditemui di rumahnya di RT 03/RW 01, Desa Wonosoco, Undaan, Kudus.

    Tak hanya pandai mendalang wayang klitik, anak pasangan Sutikno dan Siti Umayah itu juga pandai mendalang wayang kulit. Siswa SD 1 Wonosoco ini mengaku memiliki obsesi besar untuk menjadi seorang dalang.

    ”Saya ingin menjadi seperti ayah. Jadi dalang,” katanya singkat.

    Sejak usia 5 tahun, Tino sudah tertarik dengan salah satu kebudayaan Jawa ini. Terbisa dengan wayang dan berbagai propertinya menjadikan Tino cepat akrab dengan benda-benda itu.

    ”Saya belajar mendalang dari ayah. Cerita pewayangan sangat menarik. Jadi selalu saya simak dengan baik. Selain belajar di rumah, saya juga sering mengamati saat ayah sedang mendalang,” tuturnya.

    Seperti anak lainnya, Tino juga mengaku sering menonton Youtube. Namun bukan film kartun yang ditonton. Ia lebih memilih menonton cerita pewayangan. Mulai dari video pementasan wayang, hingga cerita pewayangan modern. Untuk menambah jumlah referensi.

    ”Paling suka saya menonton cerita Guarso-Guarsi. Ceritanya yakni seorang manusia yang karena perbuatannya akhirnya berubah jadi monyet,” ujarnya.

    Diusianya yang masih kecil, Tino memang belum fasih untuk membaca. Ia pun mengaku belum bisa jika harus membaca naskah cerita pewayangan. Saat ini, ia mengandalkan daya ingatnya untuk mengahafal cerita pewayangan yang akan dibawakannya.

    Dalam pentas, Tino bisa mendalang selama dua jam. Ia butuh sekitar lima hari untuk bisa lancar membawakan satu cerita. Biasanya ketika mau pentas, ia secara rutin berlatih dengan ayahnya yang juga menjadi dalang di Wonosoco.

    Meskipun masih terbilang belia, Tino kerap tampil di berbagai panggung. Mulai dari panggung sedekah bumi, hingga pementasan di kampus.  Tino juga pernah tampil dalam film dokumentar tentang Kudus yang bertajuk ‘Klitik Tanpa Titik’.

    Rasa canggung dan malu pun tak pernah dirasakannya saat tempil mendalang. Bahkan ketika teman-temannya datang ke rumah untuk melihat mendalang, ia pun meladeninya dengan gembira. Ini justru dijadikan panggungnya untuk berlatih tampil diatas panggung.

    ”Mendalang itu hal yang asyik, saya harap teman-teman saya bisa ikut menyukainya. Kata ayah saya, dengan menjadi dalang bisa ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan,” ucapnya. (*/zen)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here