Beranda Jepara Motoran ke Solo untuk Pemusatan Latihan, Tanggung Biaya Sendiri

Motoran ke Solo untuk Pemusatan Latihan, Tanggung Biaya Sendiri

Rani Puji Astuti dan Aris Wibawa, Atlet Kudus dan Jepara Peraih Medali di Asian Para Games

39
0
BANGGA: Rani Puji Astuti (kanan) meraih medali perunggu cabor angkat berat putri kelas 55 kg di ajang yang sama

Enam tahun lalu, Rani Puji Astuti hanyalah seorang penjual pulsa. Kini, dia berhasil mengubah nasibnya berkat prestasi. Terutama meraih medali perunggu di Asian Para Games.

Begitu pula dengan asal Jepara —

KHOLID HAZMI, Kudus

POSTUR tubuhnya gempal. Gayanya seperti laki-laki. Tapi, Rani Puji Astuti seorang perempuan. Dia menderita penyakit folio sejak lahir. Tak bisa berjalan seperti orang normal. Harus pakai alat bantu, seperti kursi roda.

Meski begitu, penampilannya itulah justru yang membuat Ketua National Paralympic Comitte (NPC) Kudus Sugiarto meliriknya. Melihat bentuk tubuhnya, pria yang juga difabel ini langsung yakin bahwa Rani punya potensi menjadi atlet.

Pertemuannya dengan Rani terjadi pada 2011 lalu. Saat itu, usia Rani masih 29 tahun. Sugiarto kenal lewat salah satu rekannya. Kala itu, sehari-hari Rani berjualan pulsa di rumah neneknya. Terkadang, juga mengantarkan sang nenek berjualan tahu ke pasar. Dengan sepeda motor yang sudah dimodifikasi. Dari roda dua jadi roda tiga.

HARUMKAN INDONESIA: Aris Wibawa saat tampil di Asian Para Games 2018.

Awalnya, Rani masih ragu mau terjun ke dunia olahraga. Sugiarto terus membujuk. Memberi contoh sukses beberapa difabel yang berprestasi. Berkat bujukan pria yang juga pelatih tenis meja ini, Rani memutuskan terjun ke dunia olahraga.

Sugiarto sendiri yang melatih Rani. Fokus di cabang olahraga atletik. Yakni lempar lembing, tolak peluru, dan lempar cakram. Hingga mengikuti tes prestasi di NPC pusat di Solo. Beberapa bulan sebelum Pekan Paralimpic Indonesia (Peparnas) di Riau 2012.

Ketika di Solo itulah, Syafik, pelatih angkat berat NPC Jateng menemukan bakat Rani. Karena punya postur tubuh yang gempal dan berotot. ”Rani itu tak usah ikut atletik. Masukkan ke angkat berat saja,” kata Sugiarto menirukan ucapan pelatih angkat berat Jateng.

Rani dan Sugiarto diminta menemui pengurus NPC pusat. Padahal, saat itu Rani belum selesai ikut tes prestasi. Di hadapan pengurus NPC pusat, Rani diminta mencoba mengangkat gagang angkat berat. Hanya gagang. Beratnya sampai 20 kilogram.

Usai melihat angkatan itu, pelatih angkat berat dari NPC langsung tertarik dengan Rani. Tawaran langsung datang. Rani diminta ikut latihan selama dua pekan. Untuk persiapan Peparnas di Riau.

Namun, NPC hanya memfasilitasi tempat lokasi menginap. Kebutuhan pribadi termasuk makan ditanggung Rani sendiri. Sugiarto yang saat itu mendampingi Rani sempat berpikir. Soal biaya hidup Rani kalau benar ikut latihan.

Akhirnya ada solusi. Lewat NPC Kudus membantu dengan anggaran seadanya. Rani juga mencari dana sendiri. Dia akhirnya mantap latihan angkat berat selama dua pekan di Solo.

Rani dan Sugiarto berangkat lagi ke Solo. Rani naik sepeda motor sendiri. Sedangkan Sugiarto diboncengkan rekannya. Naik sepeda motor juga.

Menu latihan angkat berat jadi makanan setiap hari. Saat itu, angkatannya bisa sampai 90 kg. Untuk menjaga kebugaran tubuh dan kekuatan otot-ototnya, Rani juga rutin fitnes.

Proses yang dijalani Rani untuk menjadi atlet terbilang singkat. Setelah latihan selama dua pekan, dia diminta ikut Perpanas Riau 2012. Hasilnya memang belum sesuai harapan. Gagal meraih medali.

Pulang dari Riau, perempuan yang kini berusia 35 tahun ini, kembali dipersiapkan untuk ikut Asean Para Games di Myanmar 2014. Kali ini hasilnya memuaskan. Meraih medali perunggu. Berlanjut di Asian Para Games Korea Utara pada akhir 2014, Rani kembali mempersembahkan medali perak untuk Indonesia.

Dua hari lalu, perempuan asal Desa/Kecamatan Jekulo, Kudus, ini, kembali mengharumkan Indonesia. Dia mempersembahkan medali perunggu pada Asian Para Games 2018 di Jakarta. Prestasi itu berbuah dari cabor angkat berat putri kelas 55 kg.

Dari tiga angkatan, hanya satu yang gagal. Angkatan pertama seberat 88 kg sukses. Begitu pula pada angkatan kedua dengan beban 92 kg. Rani gagal pada angkatan ketiga dengan beban 95 kg.

Kini, bonus dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Rp 250 juta menanti. Dari bonus atas berbagai prestasinya itulah, Rani bisa hidup mandiri. Bahkan, dia sudah bisa membeli rumah di Solo. Meski demikian, dia tetap ingin membawa nama Kudus di berbagai ajang. Dia berharap ada perhatian dari Pemkab Kudus bagi para atlet difabel.

Atlet dari Karesidenan Pati lain juga mengharumkan Indonesia di Asian Para Games. Dia Aris Wibawa, atlet renang (tuna daksa) asal Jepara yang berhasil meraih medali perak. Perjuangan laki-laki yang berdomisili di RT 15/RW 3, Desa/Kecamatan Batealit, ini, tak mudah. Di babak final, dia harus berhadapan dengan lima atlet lain dari berbagai negara. Namun berkat kegigihannya, dia berhasil meraih posisi kedua.

Laki-laki kelahiran 12 Desember 1992 ini, menceritakan, dia sedikit tertinggal dari atlet asal Tiongkok. ”Juara I diraih Tiongkok. Untuk posisi III ditempati atlet dari Vietnam,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Prestasi itu, tak terlepas dari usaha serta keyakinannya. ”Berusaha optimistis. Yang penting yakin dan selalu berusaha melakukan yang terbaik,” tuturnya.

Ke depan, Aris berharap bisa menjadi lebih baik dari apa yang didapat hari ini. ”Kami juga berharap bisa mendapatkan hak yang sama. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk semuanya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua NPC Jepara Asrori melalui Sekretaris NPC Miftahul Faizin, mengatakan, persiapan yang dilakukan Aris untuk tampil di Asian Para Games 2018 cukup panjang. Aris juga sudah meraih berbagai prestasi sebelumnya. Mulai meraih perunggu ASEAN Para Games di Singapura 2015 hingga meraih dua emas di ASEAN Para Games di Kuala Lumpur 2017 lalu.

Sepulang dari ASEAN Para Games di Kuala Lumpur, dia langsung berlatih intensif di Solo selama sekitar enam bulan. Dia dilatih secara khusus oleh pelatih NPC Indonesia.

Faizin melanjutkan, NPC Jepara merasa bangga salah satu atlet Jepara bisa menorehkan prestasi. ”Sebelumnya tak ada atlet asal Jepara yang ambil bagian di Asian Para Games. Ini kali pertama dan langsung meraih prestasi,” tuturnya.

Selain itu, Aris juga memiliki tekad kuat. Sejak 2015 lalu, mereka kesulitan anggaran, karena tak lagi dibiayai dari pemkab. Namun, Aris tetap tekun berlatih meski harus mengeluarkan biaya sendiri. ”Dia hanya minta bantuan untuk uang kos,” urainya.

Mengenai perhatian Pemkab Jepara sendiri, Faizin menyatakan, sebelum bertolak ke Jakarta tak ada pelepasan atlet secara khusus. Termasuk saat bertanding juga tak ada suport langsung. ”Ada sedikit perhatian dari KONI. Atlet diberi uang saku. Namun yang kita harapkan tak sekadar uang saku, tapi juga suport moral,” urainya.

Ke depan, dia berharap, Pemkab Jepara lebih peduli dan bisa memfasilitasi sarana prasarana untuk perkembangan atlet difabel. ”Apalagi Jepara memiliki potensi,” imbuhnya. (*/lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here