Beranda Rubrikasi Artikel Stop Rokok Ilegal, Tekan Kerugian Negara

Stop Rokok Ilegal, Tekan Kerugian Negara

Oleh : Teguh Kustiawan, Pegawai KPPBC TMC Kudus*)

669
0

KEHADIRAN rokok illegal di tengah-tengah perokok bukanlah sesuatu yang asing. Hampir setiap perokok pasti pernah bersentuhan dengan rokok illegal walaupun hanya sekedar melihatnya di warung atau toko.Terlihat menggiurkan memang mengkonsumsi rokok illegal, dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan rokok legal, cita rasa yang tidak jauh berbeda bahkan hampir menyerupai produk rokok bermerek, namun apapun alasannya tetaplah rokok illegal.

Untuk itu masyarakat perlu memiliki pengetahuan dasar agar mengenali perbedaan rokok Ilegal dan rokok legal. Selanjutnya apa itu Rokok Ilegal, rokok illegal adalah rokok dengan ciri-ciri antara lain rokok yang tidak dilekati pita cukai, rokok yang dilekati pita cukai palsu/bekas, rokok yang dilekati pita cukai bukan peruntukannya/haknya.

Pengetahuan dasar tersebut akan didapat masyarakat melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi oleh Pemerintah melalui Bea Cukai. Program ini bertujuan untuk mengedukasi pedagang dan masyarakat umum terkait dengan aturan hukum yang berlaku tentang cukai, risiko yang mengancam kesehatan dan risiko yang mengakibatkan hak negara berupa penerimaan negara dari sektor cukai tidak tercapai, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsekuensi dan hukuman yang berlaku terkait pembelian, penjualan dan kepemilikan rokok ilegal.

Bea Cukai dalam melakukan sosialisasi, salah satunya dengan mendatangi toko – toko grosir maupun klontongan yang menjual rokok. Petugas menyampaikan beberapa informasi kepada masyarakat untuk senantiasa mengecek keaslian rokok yang ditawarkan agen atau sales dengan cara mengecek ada atau tidaknya pita cukai, mengecek keaslian pita cukai, mengecek apakah pita cukai tersebut bekas pakai, dan mengecek kesesuaian kode personalisasi pita cukai, serta mengecek sesuai dengan peruntukannya.

 

Tekan Kerugian Negara

Menurut Undang-Undang nomor 39 Tahun 2007 tentang cukai, rokok merupakan barang yang memiliki karakteristik tertentu yang oleh karenanya dikenakan cukai sebagai kontrol dari Pemerintah yang peredarannya harus diawasi dan dikendalikan. Di negara Indonesia tercinta ini, produsen rokok adalah penyumbang penerimaan Negara di bidang cukai hingga ratusan triliun rupiah tiap tahunnya. Tahun 2017 penerimaan cukai hasil tembakau mencapai Rp 149,9 triliun, dengan kata lain semakin maraknya peredaran rokok illegal ini akan sangat merugikan negara karena negara tidak mendapatkan pungutan apapun dari perdagangan rokok illegal ini.Maka dari itu pemerintah perlu melakukan tindakan tegas dalam memberantas rokok illegal.

Menghadapi permasalahan peredaran rokok illegal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah melakukan kegiatan pemberantasan rokok illegal dengan berbagai penindakan. Sebagai contoh Kantor Bea Cukai Kudus sejak Januari 2018 hingga Juni 2018 telah melakukan 48 kali penindakan. Angka tersebut meningkat dari semester tahun sebelumnya sebanyak 32 penindakan. Di tingkat nasional berdasarkan hasil survey UGM persentase peredaran rokok illegal sebesar 7.04% atau senilai dengan kerugian cukai rokok sebesar Rp 0,91 triliun, persentase ini menurun dibanding tahun 2016 yakni 12.14% atau senilai dengan kerugian cukai rokok Rp 2,4 trliun, dengan kata lain anggaran negara yang dapat diselamatkan sekitar Rp 1,5 triliun dan di tahun 2020 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diberikan target 3%.

Dalam menekan peredaran rokok illegal, Bea Cukai juga bersinergi dengan instansi pemerintah daerah. Cukai dan pajak rokok yang dipungut, sebagian didistribusikan kembali ke daerah dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Penggunaan DBHCHT tersebut salah satunya adalah untuk kegiatan pemberantasan rokok illegal oleh pemerintah daerah.

Sinergi yang dilakukan antara Bea Cukai dan instansi terkait lainnya dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan peredaran rokok illegal serta sosialisasi dan edukasi yang tepat sasaran akan menjadikan masyarakat memahami peraturan terkait cukai, sehingga dapat mengidentifikasi ciri-ciri rokok illegal beserta sanksinya.

Tentunya, tidak luput dari peran masyarakat itu sendiri. Masyarakat sebagai garda terdepan harus berperan aktif apabila ada informasi terkait indikasi rokok illegal denganmelapor ke kantor Bea Cukai terdekat. Masyarakat juga dapat memberikan nasehat kepada produsen atau penjual rokok ilegal agar mereka tidak memproduksi dan menjual barang tersebut.

Melalui cara tersebut dipastikan peredaran rokok illegal dengan target 3% pada tahun 2020 dapat dicapai, sehingga dapat menekan potensi kerugian negara. Tidak hanya itu saja, penerimaan negara dari sektor cukai dan pajak rokok juga dapat mencapai target bahkan bisa melebihi target yang ditetapkan.

Sebagai masyarakat yang peduli, ayo sama-sama kita STOP ROKOK ILEGAL.

 

*)Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili kebijakan instansi tempat saya bekerja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here