Beranda Grobogan Terkena Penyakit Glukoma sejak Usia Sembilan Tahun

Terkena Penyakit Glukoma sejak Usia Sembilan Tahun

Di Balik Kesuksesan Sri Sugiyanti, Atlet Para Cylcing yang Raih Dua Medali di Asian Para Games

48
0
JADI KEBANGGAAN: Ayah dan ibu Sri Sugiyanti, Sugimin dan Eni Harwati serta kakak dan adeknya bersama Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo memperlihatkan foto Sri Sugiyanto.

Sri Sugiyanti atlet para cycling asal Grobogan berhasil mendapatkan dua medali dalam ajang Asian Paragames 2018. Atlet asal Desa Sengonwetan, Kradenan, Grobogan, berhasil menyumbang medali perak dan perunggu. Yaitu medali perunggu di woman time trial kelas B Senin (8/10) dan medali  perak di individual road race (IRR) klasifikasi B Selasa (9/10).

SIROJUL MUNIR, Grobogan

WAJAH sumringah terlihat dari wajah ayah Sri Sugiyanti, Sugimin. Putri keduanya berhasil mendapatkan dua medali dalam kejuaraan Asian Para Games di Jakarta. Yaitu medali perunggu di nomor woman time trial kelas B pada Senin (8/10) dan medali  perak didapat saat berlaga individual road race (IRR) klasifikasi B dengan sepeda tandem menempuh jarak 72 km (18 putaran) pada Selasa (9/10).

Setelah tahu jika saudaranya mendapatkan medali, keluarga dari Sri Sugiyanti berkumpul di rumahnya  RT 5/RW1, Desa Sengonwetan, Kradenan, Grobogan. Mereka Sugimin dan istrinya Eni Harwati. Kakak dan adik Sri Sugiyanti, Dewi Setyorini dan Wahyu Okta Cahya Nugroho, serta Devi Kusnul Khoidah. Mereka sedang melihat video streaming pertadingan Sri Sugiyanti.

Keberhasilan Sri Sugiyanti itu menjadi kebanggan dari warga Desa Sengonwetan dan Kabupaten Grobogan. Sri Sugiyanti saat ini masih kuliah di UNS Surakarta jurusan ilmu pendidikan jurusan luar biasa semester tujuh. Perempuan kelahiran  25 Agustus 1994 ini juga prestasi di bidang akademik dengan IPK 3.80.

Saat ini Sri masih di Jakarta untuk mengikuti kejuaraan dua nomor para cycling yang akan diikutinya. Yaitu pada Kamis (11/10) dan Sabtu (13/10) untuk beberapa nomor. Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo bersama Sugimin akan bertolak ke Jakarta pada Rabu (10/10). Mereka datang untuk memberikan support langsung kepada anaknya.

”Saya akan memberikan support dan semangat kepada anak saya (Sri Sugiyanti) secara langsung. Nanti sore (kemarin, Red) saya ke Jakarta naik kereta api bersama kepala desa,” kata Sugimin.

Sugiyanti alami tuna netra sejak kelas V SD N 2 Sengonwetan. Puluhan medali diraihnya sejak kecil hingga sekarang.

Sejak duduk di bangku SD, SMP dan SMA selalu menjadi juara I sekolah. Prestasi yang didapat di antaranya juara 1 tenis meja tuna netra kelas putri Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) DPD Kabupaten Sleman Jogjakarta 2016, juara II lomba puisi Satukan Hati Wujudkan Mimpi BEM BPPI FE UNS 20 November 2010, medali perak pra Porprov NPC Jateng 2018, Pepanas 2018, dan masih banyak lagi.

”Dari kecil anak saya sudah pandai dan tekun dalam belajar. Dia terkena penyakit glukoma sejak usia 9 tahun ketika kelas V SD. Sejak itu, tidak bisa melihat. Tetapi semangatnya sangat tinggi. Ia ingin terus sekolah,” ujar Sugimin yang setiap hari bekerja sebagai petani.

Setelah lulus SDN 2 Sengonwetan, Sri Sugiyanti meneruskan pendidikan SMP YKAB Solo dan SMA N 8 Solo. Di SMP YKAB Solo ada fasilitas untuk difable. Olahraga yang digeluti berbagai macam. Mulai dari lari, lempar lembing, tenis, catur, dan yang lainya.

”Sejak pertama ikut pertandingan dia terus mendapatkan medali dan hadiah. Dalam pertandingan ia  mewakili NPC Solo,” jelasnya.

Dewi Setyorini kakaknya Sri Sugiyanti mengatakan, adiknya termasuk cerdas. Ketika belajar huruf braile adiknya cepat menguasai. Begitu juga dengan huruf braile Alquran. Sehingga tidak hanya pandai membaca huruf latin tetapi juga pandai mengaji.

”Beberapa kali juga juara tilawah Alquran dengan huruf braille. Prestasinya banyak. Kami tidak hafal. Karena medali disimpan di sekolahnya Solo,” ujarnya.

Saat mengikuti Asian Para Games. Sri Sugiyanti juga berbenturan dengan jadwal KKN di kampusnya. Sebab, waktu pelaksanaanya berbarengan. Kemudian dirinya konsultasi dengan kedua orang tuanya. Ia memutuskan ikut Asian Para Games daripada KKN. Dimana program kampus tersebut bisa diulang tahun depan.

”Semangat belajar Sri Sugiyanti luar biasa. Dia tidak mau menyerah. Sikapnya mandiri. Ketika mau pulang tidak mau dijemput. Sri naik bus sendiri dan dijemput di terminal Kecamatan Kradenan,” tambahnya.

Ketika ditanya masalah bonus yang diberikan pemerintah pusat, Sugimin menyerahkan semuanya kepada anaknya. Hasil yang didapatkan tersebut adalah hasil jerih latihan disiplin dari anaknya. Sri Sugiyanti

Akan diganjar bonus Rp 500 juta untuk medali perak dan Rp 250 juta untuk medali perunggu.”Saya serahkan semua kepada anak saya untuk diapakan. Dulu pernah berkeinginan hasil bonus akan dibuat menjalankan ibadah umroh,” tandasnya.

Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo berharap Sri Sugiyanti bisa mendapatkan perhatikan dari pemerintah daerah. Sebab, Sri Sugiyanti masih berstatus sebagai warga Desa Sengonwetan.

”Saya berharap ada pengakuan dari pemerintah daerah karena Sri Sugiyanti masih warga Kabupaten Grobogan. Hanya saja latihanya ada di NPC Solo karena sekolah dan kuliah di sana,” harap dia. (*/zen)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here