Satu-satunya Guru di Kudus yang Raih Satya Lencana Pendidikan

    Abdul Rochim, Guru dan Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional

    16
    0
    Abdul Rochim (REZA EKA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

    Sebagai guru dan kepala sekolah, Abdul Rochim tak sekadar menjalani rutinitas mengajar. Dia juga membuat inovasi pembelajaran. Tujuannya memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan. Berkat kiprahnya itu, dia menjadi satu-satunya guru di Kudus yang meraih satya lencana pendidikan.

    Reza Eka Saputra, Kudus


    PAGI itu suasana di kantor kepala SMP 5 Kudus terasa sejuk. Abdul Rochim mengenakan baju olahraga. Maklum, dia usai joging pagi. Ini menjadi rutinitasnya sebelum bertugas. Kegiatan itu dilakukan dua kali dalam seminggu. Jumat dan Minggu.

    Usai joging kemarin, dia membersihkan badan. Lalu ganti pakaian dan bersiap melanjutkan tugasnya sebagai kepala sekolah. Dia juga masih ngajar mata pelajaran fisika.

    Ia termasuk guru yang inovatif dalam menyampaikan materi. Di antaranya menggunakan media-media di lingkungan sekitar. Contohnya saat menjelaskan tentang roket. ”Roket itu kalau di fisika merupakan hukum Newton ke-3,” ujarnya.

    Dia tak hanya menjelaskan teori. Namun menjelaskan dengan menggunakan media yang ada di sekitar, seperti balon. ”Membuat roket itu susah. Untuk praktik bisa pakai balon. Sebenarnya benda apapun bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Tak harus benda yang mahal,” terangnya.

    Dengan cara pembelajaran yang seperti itu, menjadi modal baginya untuk mengikuti lomba. Di antaranya lomba inovasi pembelajaran dan lomba kreativitas guru. Salah satu karyanya dalam lomba tersebut, menjelaskan tentang roket.

    Dia mengaku, juga pernah ikut lomba menggunakan media laser mainan yang dimanfaatkan untuk mengukur diameter rambut. ”Rambut itu kan tipis. Tidak bisa diukur dengan cara biasa. Menggunakan penggaris tidak mampu, menggunakan jangka sorong mengakibatkan rambutnya putus. Akhirnya saya menggunakan laser mainan. Dengan menggunakan konsep fisika, akhirnya ketemu diameter rambut tersebut,” ungkap pria yang menjadi guru berprestasi 2013 ini.

    Sudah berderet prestasi yang didapat suami dari Sumiyatun ini. Mulai tingkat Disdikpora Kudus, Kanwil Disdik provinsi, hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Dengan modal menjadi guru berprestasi itu, ia mengukuti tes untuk menjadi kepala sekolah. Dia pun berhasil diangkat menjadi kepala SMP 5 Kudus pada Desember 2014 lalu. Saat itu, dia menjadi kepala SMP termuda di Kabupaten Kudus.

    Saat menjadi kepala sekolah, dia mengusung beberapa kebijakan. Salah satunya mengusung selogan ”Kalita”. Singkatannya, karakter, literasi, dan adiwiyata. Karakter, dia menginginkan siswa SMP 5 Kudus untuk memiliki karakter yang baik. ”Alhamdulillah sekarang sudah membaik dan mulai terbentuk,” tuturnya.

    Untuk literasi, hal ini berhubungan dengan membaca buku. Dia melihat hasil survei di dunia, peringkat Indonesia berada di bawah. Bahkan, perbandingannya 1.000:1 anak yang membaca buku selama satu bulan.

    Sedangkan adiwiyata berarti sekolah yang memperhatikan lingkungan. ”Sekolahnya menjadi salah satu titik pantau dan penopang penilaian adipura. Jadi, sangat penting membudayakan kebersihan dan keindahan lingkungan,” katanya.

    Sekolah yang dipimpinnya juga mengalami peningkatan prestasi. Prestasi akademik itu didapatkan dari nilai ujian tahun ini. Tahun lalu dari peringkat 10, tahun ini menjadi peringkat 6 di Kabupaten Kudus. Pada nonakademik, anak didiknya juga beberapa kali bisa meraih medali. Di antaranya juara I lomba desain batik, juara I lomba poster, dan juara I lomba musik tradisional. Bahkan menjadi duta Kudus untuk mengiringi tari kretek secara live pentas seni international di Jogjakarta.

    Sekitar setahun menjadi kepala sekolah, dia menyabet prestasi bergengsi, Satya Lencana Pendidikan. Penghargaan bagi tokoh berprestasi di bidang pendidikan. Ini sekaligus menjadi satu-satunya guru di Kudus yang mendapatkan.

    Penghargaan itu didapatkan setelah menjadi guru berprestasi dan ada pemantauan selama dua tahun. Dengan masa pemantauan itu, dia mengikuti lomba dan menjadi narasumber yang ditugasi Kementerian Pendidikan dan Kebuadayaan. Baik di Kudus hingga di daerah lain se-Indonesia. ”Tujuannya memberi motivasi kepada guru lain, agar lebih inovatif,” ujar kepala sekolah yang berdomisili di Perumahan Muria Asri ini.

    Baru-baru ini, pria kelahiran Kudus, 16 Januari 1976 lalu ini, menjadi pemateri pelatihan guru di Manado dan Balikpapan. Kegiatan bertajuk ”Aksi for School” ini, melatih guru terbaik di kabupaten se-Indonesia. ”Para guru itu, kemudian melatih guru dan siswa di daerah masing-masing,” jelasnya. (*/lin)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here