Jaga Stamina dengan Banyak Menghela Nafas, Capai Finish Hampir Sejam

    Liem Swie King, Legenda Bulu Tangkis Asal Kudus yang Ikut Lari 5K di TKRM

    10
    0
    TETAP SEMANGAT: Legenda bulu tangkis Indonesia asal Kabupaten Kudus Liem Swie King (tengah) mengikuti even Tiket.Com Kudus Relay Marathon (TKRM) di sekitar Alun-alun Kudus kemarin. (DONNY SETYAWA/RADAR KUDUS)

    Legenda bulu tangkis Indonesia asal Kota Kretek Liem Swie King ikut Tiket.Com Kudus Relay Marathon (TKRM) di kelas 5 K kemarin. Usianya 62 tahun. Semangatnya masih terbilang tinggi mengikuti even itu. Beberapa kali ia menghela nafas saat lari di acara itu. Hampir sejam akhirnya ia finish.

    DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus


    SETIAP tahun, Liem Swie King selalu menyempatkan datang ke Kudus. Paling tidak sekitar dua kali dalam setahun. Legenda bulu tangkis itu memang lahir di Kudus. Sampai saat ini, Liem, sapaan akrabnya pun masih memiliki rumah yang terletak di Jalan Jendral Soedirman.

    Sabtu (21/10) lalu, lelaki kelahiran Kudus, 28 Februari 1956 itu kembali menginjakkan kaki di kota kelahirannya. Kali ini tak hanya untuk sekadar pulang kampung. Peraih tiga kali gelar tunggal putra All England itu datang untuk mengikuti even lari nasional yang digelar kemarin.

    ”Saya berpartisipasi saja di kategori 5K (5 kilo meter, Red), menyesuaikan umur,” katanya sambil mengembangkan senyum.

    Meskipun ia mengambil rute paling pendek di kategori dewasa, namun waktu yang dibutuhkan terbilang panjang. Untuk menyelesaikan rute sejauh 5 kilometer pria berkulit putih ini butuh waktu hampir satu jam.

    ”Sekitar satu jam kurang sedikit. Soalnya saya juga banyak jalannya ketimbang lari,” ujarnya.

    Faktor usia membuatnya cukup banyak menarik nafas di tengah-tengah aktivitasnya berlari. Pebulu tangkis yang gantung raket pada 1988 itu juga mengaku sempat kliyengan. Namun ia tetap bertekad untuk menyelesaikannya hingga akhir.

    Dalam kesempatan ini, ia juga bertemu rekan sesama jawara bulutangkis Indonesia. Seperti Christian Hadinata, Alan Budi KusumaSusi SusantiIvana LeeHariyanto Arbi, Eddy Hartono dan Hastomo Arbi. Mereka juga turut berpartisipasi dalam even lari ini.

    ”Tadinya saya bareng mereka saat start, namun akhirnya kami pencar. Sebab, mereka masih terjaga staminanya. Mereka duluan saya di belakang,” tuturnya.

    Perjumpaan dengan rekan sesama atlet bulu tangkis ini juga sekaligus dijadikan sebagai ajang reuni. Sebab, mereka juga mengeku tidak bisa setiap saat ketemu karena kesibukan masing-masing.

    ”Kalau lagi kumpul ya ngobrol macam-macam. Mulai dari keluarga, pekerjaan, usaha, dan tentu soal badminton. Kami juga masih memantau memantau bibit potensial yang ada,” kata pria berjuluk King Smash itu.

    Ia mengaku, sangat senang bisa melihat masyarakat antusias dalam berolahraga. Ia juga berharap even lari seperti ini bisa sering diadakan.

    “Kalau bisa setahun dua kali. Olahraga merakyat yang bisa sekalian dimanfaatkan untuk menunjang potensi lain. Seperti mengenalkan sisi pariwisata Kudus,” katanya.

    Sebelum menjadi legenda, Liem mengaku mulai bermain bulutangkis sejak kecil. Atas dorongan orangtuanya ia akhirnya masuk ke dalam klub PB Djarum. Sebuah sekolah bulutangkis yang banyak melahirkan para pemain nasional.

    Di Kudus ia hanya dua hari. Usai mengkuti even lari kemarin, ia akan langsung bertolak ke Magelang. Dia mengikuti kegiatan lainnya. (*/zen)

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here