Uang Juara Lomba Digunakan untuk Biaya Lomba Berikutnya

    Rendole Production, Rumah Film SMKN 2 Pati yang Bertabur Prestasi

    17
    0
    BERPRESTASI: Beberapa anggota Rendole Production berfoto bersama usai memenangi festival film baru-baru ini. (SMKN 2 PATI FOR RADAR KUDUS)

    Rumah produksi Rendole Production SMKN 2 Pati memiliki keterbatasan finansial. Meski demikian, tak membuat daya kreatif para anggota terbelenggu. Buktinya, juara demi juara dikumpulkan dalam setiap festival film yang diikuti. Mereka menyiasati uang hadiah juara lomba digunakan untuk biaya lomba berikutnya. Jika kurang, terkadang harus patungan.

    ACHMAD ULIL ALBAB, Pati


    SEBUAH ruang kecil di area SMKN Pati terlihat ramai. Di depan komputer kesibukan jelas terlihat. Ya, itulah sekilas kesibukan dari crew Rendole Production.

    Mereka menata potongan-potongan video untuk dijadikan sebuah film pendek. Rendole Production sendiri adalah sebuah rumah produksi film yang digawangi siswa-siswi SMKN 2 Pati. Wadah ini sudah terbentuk sejak 2012 lalu.

    Terbentuknya Rendole Production diharapkan bisa mewadahi ide-ide liar di bidang sinematografi. Bahkan, kini sudah mulai berkembang di bidang desain juga.

    Luluk Setyo Nurhandoko, guru di jurusan multimedia sekaligus pembimbing Rendole Production, mengatakan, awalnya wadah ini terbentuk karena sadar ada potensi besar di bidang sinematografi yang ditunjukkan anak-anak didiknya waktu itu.

    ”Sebelumnya, saya melihat ada bakat-bakat bagus di bidang perfilman. Sayang kalau tak diwadahi. Dulu anak-anak sempat membuat film dengan judul ”Suvenir Bangunan dan Bukan Kuli”. Waktu itu memenangi festival perfilman. Setelah itu, barulah wadah ini benar-benar terbentuk,” jelas Luluk kepada Jawa Pos Radar Kudus.

    Setelah itu, dari wadah ini muncul film-film pendek. Dua sampai tiga bulan satu judul film dihasilkan. Tak jarang gelar juara didapatkan. Terbaru, Rendole Production menyabet kategori film fiksi terbaik di Festival Film Kawal Harta Negara (FFKHN) 2018. Festival film ini diselenggarakan oleh BPK RI bekerja sama dengan United States Agency For International Development (USAID).

    Selain itu, festival-festival film lain juga kerap dimenangi Rendole Production. Seperti di Festival Film Cordova, LKS tingkat provinsi.

    Namun, di balik itu, perjuangan tak mudah ditempuh anak-anak untuk tetap berkreasi dan mengembangkan bakatnya tersebut. ”Kalau secara aturan, memang tidak ada dana khusus untuk menunjang produksi film. Jadi, kami harus pintar-pintar untuk menyiasati. Caranya, uang pembinaan hasil menjuarai lomba jadi untuk membikin film lagi,” kata Luluk.

    Biaya-biaya itu, seperti keperluan transportasi syuting. Misalnya mengambil tempat syuting di luar kota. Pembelian bahan-bahan seperti kertas untuk lighting dan peralatan lain yang tak bisa dipinjam dari sekolah.

    Ya banyak lah properti untuk kelengkapan sebuah film. Bahkan, kadang anak-anak harus iuran untuk beli makan saat produksi,” imbuh Luluk. Saat ini, total ada 20 siswa-siswi yang aktif berkegiatan di Rendole Production.

    Para personel rumah produksi ini, memang merupakan pelajar. Banyak kendala yang dihadapi. Kadang saat ujian tengah semester (UTS) atau ujian akhir sekolah (UAS) harus menghentikan proses syuting.

    ”Bikin film biasanya memang dua sampai tiga bulan. Nah, saat terbentur UTS atau UAS misalnya, proses syuting harus break. Ya seperti itulah harus membagi dengan waktu belajar formal juga. Meski begitu, prestasi terus diukir anak-anak,” paparnya. (*/lin)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here