Sebelum Berangkat Sempat Masuk UGD

    Alifta Zulfa Farisa Jadi Relawan dan Serahkan Bantuan ke Palu Seorang Diri

    36
    0
    JIWA SOSIAL TINGGI: Alifta Zulfa saat menjadi relawan di Palu baru-baru ini.

    Tekad bulat menjadi relawan di Palu sudah tertancap di hati Alifta Zulfa Farisa. Padahal dia memiliki tanggung jawab pekerjaan. Selain itu, kondisi badannya juga sempat drop saat hendak berangkat, hingga masuk unit gawat darurat (UGD). Meski begitu, tak membuatnya mundur.

    FEMI NOVIYANTI, Jepara


    PEREMPUAN bernama lengkap Alifta Zulfa Farisa ini, dikenal aktif dalam banyak kegiatan. Salah satunya di paguyuban Mas Mbak Duta Wisata Jepara. Dia banyak membimbing anggota paguyuban. Terlebih setiap kali mereka hendak mempersembahkan karya, baik berupa sendratari maupun yang lain.

    Kepedulian perempuan kelahiran Jepara, 16 Juli 1997 ini, ternyata tidak hanya berhenti pada seni dan pariwisata. Dia juga memiliki kepedulian lebih kepada korban bencana di Palu dan Donggala beberapa waktu lalu.

    Kepedulian itu, ditunjukkan dengan aksi nyata. Selama tiga hari, dia datang dan menjadi sukarelawan di Palu.

    Mengenai pengalamannya tersebut, putri pasangan HM Jakfar Farid dan Anisa Lutzfia tersebut, menceritakan, dia menggalang bantuan dana untuk korban bencana Palu selama beberapa hari. ”Kami kumpulkan baju layak pakai, kemudian kami jual murah. Kami melakukan selama beberapa hari. Semua hasilnya kami kumpulkan untuk donasi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

    Setelah dana terkumpul, dia kemudian memutuskan terbang ke Palu. ”Saya pergi berdua dengan teman. Kami bawa sumbangan sekitar Rp 32 juta,” ungkapnya.

    Jelang berangkat ke Palu, hal tak terduga terjadi. Kondisi badannya drop. Sebab, beberapa hari tenaganya terforsir untuk mengumpulkan donasi. ”Saat itu muntah-muntah terus. Sampai akhirnya saya harus masuk UGD (unit gawat darurat),” katanya.

    Dia melanjutkan, sebenarnya dokter memutuskan dia harus opname. Namun dia menolak, karena jadwal keberangkatan ke Palu tinggal hitungan jam. ”Karena itulah saya hanya meminta dilakukan hal yang terbaik selain di opname. Akhirnya saya disuntik, kemudian saya keluar rumah sakit,” tuturnya.

    Selama perjalanan ke bandara, dia merasa kondisinya tak kunjung membaik. Namun dia tetap memutuskan berangkat dan terus mengkonsumsi obat.

    Meski awalnya berangkat berdua dengan teman perempuan dari Jepara, namun temannya hanya sampai di Makassar dan membantu pengungsian di sana. Dia kemudian melanjutkan perjalanan sendiri ke Palu. ”Di sana (Palu, Red) saya bergabung dengan para relawan lain untuk membantu korban bencana,” urainya.

    Di Palu, alumni SMA Negeri 1 Jepara ini merasakan hal yang luar biasa. Mulai sambutan hangat dari Gabungan Relawan Peduli Palu hingga menyaksikan secara langsung bagaimana penderitaan korban bencana di wilayah tersebut.

    ”Di sana (lokasi bencana di Palu, Red) saya benar-benar tidak memikirkan diri sendiri. Saya di sana seperti bukan saya biasanya. Biasanya ke mana-mana selalu bawa koper besar dan ribet. Tapi, ke Palu saya hanya bawa satu tas yang isinya hanya dua baju, mukena, Alquran, obat-obatan, dan uang,” jelasnya.

    Dia menyatakan, saat di lokasi bencana setiap kali berjalan selalu ada kesedihan. Sebab, semuanya dalam kondisi hancur. ”Apalagi mendengar cerita dari saksi tsunami. Semua ini seperti bukan nyata, karena terjadi dalam sekejap,” urainya.

    Dia menerangkan, kondisi korban banyak yang memprihatinkan. Mereka berteduh di tenda. ”Di Petobo itu daerahnya berupa perbukitan. Mereka semua mengungsi hanya beralas terpal, sehingga saat hujan air langsung mengenai mereka,” ujarnya.

    Perempuan yang berdomisili di RT 2/RW 3, Kelurahan Pengkol, Kecamatan Jepara, ini menambahkan, dana bantuan yang dibawanya dimaksimalkan untuk membantu korban bencana. ”Saya belanjakan barang yang banyak dibutuhkan, seperti terpal, susu bayi, pampers, dan obat-obatan. Kemudian saya salurkan secara langsung,” katanya.

    Untuk mencari barang itu, dia juga mengalami kesulitan. Lantaran pusat perbelanjaan banyak yang rusak. ”Harus mencari di lokasi yang cukup jauh. Harganya juga lebih mahal, karena di sana barang-barang susah didapat,” tuturnya.

    Alifta mengaku sempat merasa takut dengan apa yang dilakukan. Terlebih, dia datang seorang diri. Meski begitu, dia merasa perlu menyampaikan amanah donasi dari warga Jepara yang telah dikumpulkan dengan baik.

    ”Banyak sekali pelajaran yang saya peroleh. Sebenarnya saya ingin tinggal lebih lama. Namun tanggung jawab saya di Jepara tak mungkin saya tinggalkan dalam jangka waktu lama,” imbuhnya. (*/lin)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here