Gunakan Bahan Organik sebagai Pengusir Hama

    Ahmad Ali Ridhlo, Anggota Muda Komunitas Hidroponik Jepara (KHJ)

    21
    0
    Ahmad Ali Ridhlo

    Ahmad Ali Ridho belum lama belajar ilmu baru tentang hidroponik. Kegiatan ini ia dapatkan ketika ia dapat hukuman saat tidak mengikuti kegiatan perkemahan di sekolah. Dia berhasil mengembangkan bisnis itu.

    FEMI NOVIYANTI, Mayong


    KETEKUNAN dan keuletan Ahmad Ali Ridho untuk bercocok tanam dengan sistem hidroponik berbuah manis. Dua tahun terakhir dia memulai aktivitas hidroponiknya dan saat ini berhasil mengembangkannya dengan baik.

    Pelajar kelahiran Jepara, 9 Maret 2001 ini menceritakan, dia mulai berhidroponik pada 2016 saat duduk di kelas X. ”Awalnya tidak sengaja. Saat itu sekolah mengadakan perkemahan bantara. Tetapi saya tidak mengikuti perkemahan tersebut. Akhirnya sekolah memberi sanksi kepada murid-murid yang tidak mengikuti kegiatan dengan membuat hidroponik,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

    Dia bersama beberapa teman sekelasnya membuat hidroponik. Namun setelah memenuhi hukuman, dia tidak berhenti. Dia justru penasaran dengan bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik.

    Laki-laki yang tinggal di RT 5/RW 3, Desa Pelang, Mayong, mencari berbagai informasi lewat medsos maupun orang-orang yang sudah menanam hidroponik. Pertama kali, pelajar kelas XII SMA Negeri 1 Mayong ini menanam kangkung dengan menggunakan sistem wick yang merupakan sistem yang paling sederhana. Setelah itu, dia menanam selada menggunakan botol bekas dan strerofoam bekas.

    ”Selanjutnya saya memutuskan untuk membuat instalasi hidroponik sistem NFT menggunakan talang air. Setelah dua kali panen saya menggantinya dengan sistem DFT dan sistem ini masih berjalan sampai sekarang,” terangnya.

    Hingga kini berbagai jenis tanaman telah ditanamnya dengan sukses. Mulai dari pakcoy, sawi caisim, seledri, selada, bayam merah hingga kangkung. Dia menanam hidroponik di rumah menggunakan pipa pvc sistem DFT. Selain pipa, dia juga menggunakan sterofoam bekas. Tak hanya itu, di sekolah dia juga menanam hidroponik di depan kelas untuk memperkenalkan kepada teman-teman dan guru-guru tentang bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik. Upayanya sukses dan berhasil menarik minat orang lain untuk turut bercocok tanam.

    ”Teman banyak yang ingin diajari. Kalau guru justru banyak yang berkonsultasi kalau ingin menanam di rumah,” tuturnya.

    Upayanya bukan tanpa kendala, dia sering mengalami kendala khususnya saat tanaman terkena hama. Tetapi dia sudah menemukan cara untuk mencegah hama. Yaitu menggunakan ramuan alami untuk menghindari penggunaan pestisida kimia.

    Saat ini dia juga tergabung dalam Komunitas Hidroponik Jepara (KHJ). Melalui komunitas itu dia mendapat banyak pengetauhan dan pengalaman berhidroponik. ”Saya merupakan anggota termuda. Dan satu teman sekolah saya yakni Yunus. Yang lainnya bapak-bapak dan ibu-ibu,” katanya.

    Di komunitas itu dia terlibat berbagai kegiatan. Mulai dari pelatihan dasar hidroponik hingga ikut berpartisipasi dalam pameran dan memperkenalkan hidroponik kepada masyarakat luas. ”Baru-baru ini KHJ ditunjuk untuk mewakili Sanggar Iptek Masyarakat dalam mengisi bursa kreasi inovasi desa di Pendopo Kabupaten Jepara juga,” pungkasnya. (*/zen)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here