Beranda Pena Muda Yang Terbuang Menjadi Uang

Yang Terbuang Menjadi Uang

Keberhasilan Karang Taruna Tunjung Seto Mengolah Sampah

34
0
TANGGUH: Anggota Pena Muda memfoto kerajinan daur ulang sampah karya Bank Sampah Tunjung Seto.

SAMPAH masih menjadi masalah bagi kelestarian lingkungan. Terutama sampah yang tak dapat terurai atau sampah anorganik. Perlu kesadaran bersama untuk penanganan. Terlebih memanfaatkan sampah menjadi barang-barang yang bernilai ekonomis. Selain dapat mengurangi sampah, juga bisa menghasilkan pendapatan.

DIPILAH: Salah satu anggota Bank Sampah Tunjung Seto memilah sampah.

Bermula dari permasalah ini, muncullah Bank Sampah Tunjung Seto di Desa/Kecamatan Bae, Kudus. Bank sampah ini, diinisiasi  Karang Taruna Tunjung Seto Desa Bae.

Awal terbentuknya, dari keprihatinan sampah yang dibuang. Minim tempat sampah. Lebih memprihatinkan lagi, banyak masyarakat membuang sampah di sungai. Dari kejadian tersebut, salah satu anggota Karang Taruna Tunjung Seto, memfoto timbunan sampah. Kemudian diunggah di media sosial (medsos).

Unggahan tersebut, banyak menggaet komentar. Akhirnya pengurus karang taruna yang diketuai M. Anshori mengajak anggota rapat bersama membahas hal tersebut. ”Kami berpikir, bagaimana masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Tapi kalau cuma melarang, terus sampah itu mau dibuang ke mana?,” ungkap Anshori.

Baca Juga: Ikuti Berbagai Lomba dan Pameran

Tepat 1 Mei 2016, Karang Taruna Tunjung Seto mendirikan bank sampah. Diberi nama Bank Sampah Tunjung Seto Bae.

Menurut Direktur Bank Sampah Desa Bae Moh Fatchur, anggota bank sampah diambilkan 15 orang. Terdiri dari perwakilan lima rukun warga (RW). Tiap satu bulan sekali, masyarakat dapat mengumpulkan sampahnya ke posko bank sampah yang berada di lima RW.

Selanjutnya, masyarakat yang menjadi nasabah bank sampah mendapatkan buku tabungan. Sampah yang disetorkan, kemudian dicatat. Yang mencatat nasabah yang menyetor. Termasuk yang memilah-milah, juga nasabah sendiri. Sampah yang sudah dipilah nilainya lebih tinggi dibandingkan sampah belum terpilah.

Fatchur, menjelaskan, sampah-sampah yang dikumpulkan kemudian dibawa ke penampungan induk. Kemudian dipilah-pilah oleh 15 anggota bank sampah.

Selanjutnya, sampah dibagi menjadi dua jenis. Ada yang dibuat kerajinan oleh anggota bank sampah sendiri. Ada juga yang dijual. Sampah yang dibuat kerajinan adalah jenis platik kresek dan bungkus jajan. Sedangkan yang dijual sampah jenis kardus, kertas, kaca, logam, dan botol air mineral.

Untuk menjual sampah yang sudah dipilah, pihaknya bekerja sama dengan pengepul. ”Tidak hanya satu pengepul. Namun lebih dari dua pengepul. Setiap kali akan menjual sampah, kami (bank sampah, Red) selalu menghubungi tiga pengepul. Itu untuk mengetahui pengepul mana yang harganya lebih tinggi,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Fatchur, hasil dari sampah yang dibuat kerajinan, seperti tas, dompet, kopiah, bunga, tempat pensil, dan lainnya. ”Hasil kerajinan kemudian kami jual melalui online,” ujarnya.

Langkah bank sampah ini, terbilang membuahkan hasil. Sejak berdiri pada Mei 2016 hingga April 2018 lalu, nasabah di bank sampah ini mencapai 350 orang. Nasabah bisa mengabil tabungan hasil penjualan sampah menjelang Lebaran.

Sementara dari pengumpulan sampah, pada 2016-2017 terkumpul sampah kertas 3.503 kg, plastik 3.503 kg, kardus 3.446, atom 3.082, kaleng 1.874, kaca (beling) 1.786 kg, botol 828 kg, dan besi 504 kg. Sedangkan pada 2017-2018, kardus 4.235 kg, plastik 3.368 kg, atom 3.055 kg, kertas 3.327 kg, beling 1.357 kg, besi 1.650 kg, botol 714, dan lain-lain 94 kg.

Dengan keberhasilan itu, bank sampah Tunjung Seto menarik perhartian berbagai pihak. Di antaranya SMP 1 Lasem, Rembang, yang tertarik untuk mendapatkan pelatihan pada Oktober 2018 lalu. Antara lain cara membuat kerajinan dari barang bekas botol mineral.

Anshori menambahkan, pada akhir 2018 lalu bank sampah ini berhasil meraup pendapatan mencapai Rp 20,15 juta. Jumlah itu naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya memperoleh Rp 17,6 juta. ”Ada satu nasabah yang mendapatkan tabungan dari bank sampah hingga Rp 1,4 juta. Memang, sesuai aturan diambilnya satu tahun sekali pada saat Lebaran. Karena kebutuhan nasabah paling banyak pengeluaran saat hari raya,” terangnya.(yakub/ma’ruf/nikmah/ovi/safina/lin)

 


        

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here