Beranda Jepara Wow Siswa SMAN 1 Jepara Ciptakan 18 Aplikasi dan Game Edukasi

Wow Siswa SMAN 1 Jepara Ciptakan 18 Aplikasi dan Game Edukasi

41
3
BERPRESTASI: Siswa SMAN 1 Jepara, Ahmad Reihan Alavi tunjukkan aplikasi game buatannya yang berhasil meraih juara I I Edutech Coding Competition Tingkat Nasional.

Ahmad Reihan Alavi, Juara I Edutech Coding Competition Tingkat Nasional Utak-Atik Program di Malam Hari, Buatkan Sekolah Aplikasi Pemantau Tugas

Siswa SMAN 1 Jepara, Ahmad Reihan Alavi bersaing dengan 200 pelajar di Indonesia pada ajang  Edutech Coding Competition tingkat nasional 2019. Idenya membuat aplikasi game kampanye pendidikan karakter mengantarkannya menjadi juara I

MELALUI smartphone, Ahmad Reihan Alavi menunjukkan aplikasi buatannya. Aplikasi itu berupa game pendidikan karakter. Usai dibuka, muncul kotak dialog berisi berbagai menu. Game yang diberinama Karaktera- Episode 1 ini kemudian dimainkan oleh Reihan.

Menu mulai main ia klik. Lalu muncul gambar seseorang yang berada di dalam ruangan. Terdapat saklar, remot, lampu, dan AC yang sedang menyala.  Ada perintah dari game tersebut untuk menyikapi kondisi ruangan yang  saat itu digambarkan tidak butuh penerangan dan pendingin ruangan. Lalu ia klik gambar saklar untuk mematikan lampu. Juga remot untuk mematikan AC.

Lalu muncul ucapan terimakasih telah melakukan bagian dari karakter mandiri. Game itu mengharuskan pemain menyelesaikan analisa gambar selama 15 detik. Setelah selsai ada kotak berisi penerapan pendidikan karakter lain. Seperti merapikan seragam sebelum masuk kelas dan mengikuti ekstrakurikuler.

Game itu yang mengantarkannya menjadi juara I Edutech Coding Competition tingkat nasional pekan lalu. Ajang tersebut digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam game yang ia buat, terdapat lima level. Masing-masing level berupa indikator pendidikan karakter pada kurikulum. Lima level tersebut dinamakan mandiri, integritas,  religius, peduli lingkungan, dan peduli sosial.

“Saya rumuskan itu sebagai korelasi pemrograman dengan tema pendidikan karakter,” kata siswa kelas X MIPA ini.

Yang menjadi pembeda dengan ratusan peserta lain adalah ia satu-satunya peserta yang membuat aplikasi game. Sedangkan peserta lain membuat program web. Ide itu muncul setelah ia konsultasi sebelum pelaksanaan lomba kepada ayah dan ibunya. “Kebetulan ayah dan ibu memang sering berkecimpung di pemrograman. Ayah di video editing. Ibu di web programmer,” katanya.

Untuk membuat rancangan proposal lomba, anak pertama dari dua bersaudara ini memilih waktu malam. Lebih dari pukul 08.00. Menurutnya, di malam hari  ide dan inspirasi sering muncul. Semakin malam semakin sepi. Membuat Reihan nyaman melanjutkan pemrograman yang ia buat.

Sebelum menembus babak final, ia mengirimkan proposal yang telah diselesaikan. Lalu dari penyelenggara masuk 30 besar peserta yang proposalnya diterima. Kemudian mengikuti pre test online berupa soal tentang pemrograman. Dimumkan pada Jumat (15/2) ia harus datang mengikuti rangkaian lomba selanjutnya di Jakarta. “Di rumah sebelum pelaksanaan, saya mulai membuat gambar, font, dan stok grafis,” ujarnya.

Sesampainya di Jakarta, mulai pukul 09.00 sampai pukul 15.00, 30 peserta diberi kesempatan mengimplementasikan proposal melalui pemrograman masing-masing. Reihan selesai 10 menit sebelum waktu habis. “Saya masuk enam terbaik untuk presentasi,” ujarnya.

Usai presentasi, pelajar  berkacamata ini dinobatkan sebagai juara I. Penghargaan itu menjadi koleksi tambahan Reihan, setelah sebelumnya pernah menjuarai kompetisi pemrograman.

Game tema baru kali ini.  Tapi game lain sudah sering.  Ia pernah masuk sebagai finalis ketika membuta game edukasi binatang herbivora anak usia di lomba Mobile Ki Hajar .  Kemudian juara II membuat game pelajaran tata surya pada 2016.

Tidak hanya game, beberapa palikasi juga pernah ia buat. Total 18 game dan aplikasi sudah ia buat. Baik untuk lomba maupun pesanan. Ia pernah diminta Unisnu Jepara membuat game Bahasa Inggris ular tangga sebagai media pembelajaran.  ‘

Bahkan mulai tahun pelajaran ini SMAN 1 Jepara menggunakan aplikasi buatannya. Aplikasi itu diberi nama Tugasku.

“Guru punya aplikasi itu untuk memantau tugas siswa tiap kelas. Guru bisa mempertimbangkan jenis tugas yang diberikan kepada siswa berdasarkan analisis aplikasi Tugasku. Bobot tugas disesuai dengan beban tugas siswa,” tutur buah hati pasangan M.Elfin Noor dan Avia Meilvi ini.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here